Dimediasi, Ahli Waris Sepakat Buka Seng yang Tutupi Ponpes Nuru A'In


Kabupaten Bandung - Pihak Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung memfasilitasi ahli waris dan pengelola pesantren Nurul A'in untuk melakukan mediasi. Mediasi dilakukan pasca pesantren tersebut ditutupi seng oleh pihak ahli waris pewakaf.

Tanah yang kini berdiri pesantren tersebut merupakan hasil wakaf dari orang tua ahli waris yang mencoba menutupi pesantren menggunakan seng.

Pada Senin (12/10/2020) pukul 11.30 WIB perwakilan pesantren, ahli waris pewakaf didampingi sejumlah pimpinan daerah tingkat kecamatan hadir dalam mediasi tersebut. Mediasi dilakukan di kantor Desa Sukamenak, tidak jauh dari lokasi pesantren. Akhirnya, pada pukul 13.30 WIB proses mediasi pun selesai.

"Alhamdulilah pada hari ini kami sudah melakukan mediasi kepada pengasuh dengan pihak ahli waris almarhum," kata Kapolsek Margahayu Kompol Agus Wahidin usai mediasi di Kantor Desa Sukamenak, Senin (12/10/2020).

Agus mengatakan, proses mediasi ini dilakukan untuk mencegah agar tidak terjadi kesalahpahaman antara kedua belah pihak.

"Saya mendapatkan instruksi dari pimpinan agar segera menyelesaikan masalah ini. Maka dari itu kami langsung satu hari setelah kejadian kemarin memfasilitasi kedua belah pihak melakukan mediasi," ujarnya.

Sementara itu, detikcom mencoba untuk meminta konfirmasi kepada pihak ahli waris. Namun, mereka enggan memberikan komentar.

Terlepas dari itu, mediasi yang dilakukan menghasilkan beberapa kepesakatan. Dalam surat pernyataan yang dibuat, keuda belah pihak sepakat untuk saling menahan diri dan menjaga keamanan agar tetap kondusif.

Selain itu, pihak ahli waris harus mencabut seng yang sudah menutupi sebagian gedung pesantren tersebut.

"Hasil kesepakatan bahwa dari masing masing pihak, pihak pertama (ahli waris) bahwa seng yang pasang kemarin, hari ini dibongkar dan pembongkaran diserahkan pihak desa," ujar Agus.

Kemudian, kedua belah pihak harus menjamin agar kegiatan belajar mengajar di ponpes tersebut tetap berjalan. Pihak ponpes pun sepakat tidak akan menghalangi proses pemindahan pesantren.

"Selama proses penyelesaian (sengketa) ponpes bisa digunakan lagi. Kemudian, dari pihak pengelola tidak mempermasalahkan untuk proses ke depannya," ujar Kapolsek Margahayu tersebut.

Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh pihak ahli waris yang diwakili oleh Zaenal Arifin sedangkan pihak kedua diwakili oleh Ahmad Syahidin.

"Jadi yang ditutupnya itu bukan seluruh lokasi pesantren. Yang ditutup itu sebagai batas tanah wakaf antara yang dijadikan pesantren dengan rumah pengelola pesantren," terang Agus.

Seperti diketahui, pada Minggu (11/10/2020) pagi ahli waris bersama sejumlah orang menutupi sebagian gedung. Gedung yang ditutup di antaranya, rumah dari pengelola pesantren dan asrama santriwati.


Sumber : detik.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel