Detik-detik Mencekam Lahan 5 Ha di Pekalongan Amblas Bak Ditelan Bumi

Lahan pertanian di Desa Bodas, Kabupaten Pekalongan yang amblas
bak ditelan bumi, Kamis (17/12/2020). (Foto: Robby Bernardi/detikcom)
Kabupaten Pekalongan - Bencana tanah bergerak di Desa Bodas, Kecamatan Kandangserang, Pekalongan, berdampak pada 29,5 hektare lahan pertanian dan permukiman. Dari luasan tersebut, 5 hektare di antaranya yang merupakan lahan pertanian amblas.

Salah seorang perangkat Desa Bodas, Handoyo, bercerita warga mulai mengetahui amblasnya lahan pertanian itu pada Minggu (13/12) sore. Saat itu warga menyadari permukaan lahan semakin turun sedikit demi sedikit. Hingga akhrinya amblas, bak lenyap ditelan bumi. Handoyo kemudian menceritakan detik-detik amblasnya lahan tersebut.

"Jadi, memang sejak Jumat (11/12) di sini terjadi hujan lebat, Sabtu dan Minggu juga hujan dengan intensitas tinggi," ujar Handoyo kepada detikcom, Kamis (17/12/2020).

Handoyo menceritakan sebelum tanah pertanian dan lahan yang dijadikan kandang ternak amblas, warga bahkan sempat mengabadikan video tanah yang sedikit demi sedikit bergerak turun lalu amblas. Tanah di lokasi itu amblas dengan kedalaman 10-15 meter.

"Saat diambil gambar itu terjadi pada Minggu (13/12) sore, di lahan pertanian Blok Brandal. Saat itu tanah bergerak sedikit demi sedikit turun, namun belum sampai sedalam seperti saat ini," katanya.

Saat itulah, warga mulai panik. Pasalnya, retakan tanah mulai muncul dan terus bergerak menuju ke arah permukiman.

"Mengetahui ada tanda-tanda yang kurang menguntungkan itu, warga langsung menuju ke lahan pertanian. Mereka, nekat menyelamatkan ternak hewan. Ada juga yang memanen hasil bumi seadanya. Itu sore hari," cerita Handoyo.

Hingga akhirnya warga yang panik kemudian menyelamatkan hasil pertanian dan hewan ternak miliknya. Di desa setempat, memang sudah menjadi kebiasaan membuat kandang ternak di dekat area lahan pertanian yang cukup jauh dari permukiman.

"Yang punya hewan ternak langsung dibawa turun ke bawah. Suasana panik. Petani yang sebentar lagi akan panen ubi, langsung panen dengan cepat-cepat. Mereka tidak berpikir jika tanah akan amblas begitu dalamnya," ujar Handoyo.

Warga baru mengetahui lahan pertanian seluas 5 hektare tersebut amblas bak ditelan bumi pada Minggu (13/12) malam.

"Diperkirakan Minggu malam lahan pertanian amblas, seperti membentuk lekukan sungai yang dalam dan panjang. Sebelumnya tanah pertanian ini tidak seperti itu," cerita Handoyo.

Warga kemudian mengetahui lahan pertaniannya sudah 'hilang' pada Senin (14/12) pagi. Handoyo menyebut lahan itu seakan dikeruk oleh puluhan alat berat, yang menyulapnya menjadi cekungan yang dalam, lebar dan memanjang.

"Ini fenomena yang luar biasa.....," kata warga...

"Kalau sengaja dibuat seperti ini, tidak bisa. Harus melibatkan banyak alat berat dalam satu malam. Kedalamanya saja 10-15 meter. Ini fenomena alam yang luar biasa," jelasnya.

Tidak sampai di situ saja, Handoyo bercerita tanah bergerak ke arah permukiman.

"Tanah terus bergerak. Pemukiman sini, lama-lama menjadi retak-retak. Senin sekitar pukul 10.00, lantai rumah warga mulai amblas. Dinding mulai retak. Ada rumah yang miring atau terangkat. lantai terkelupas," tuturnya.

Retakan tanah terus merembet ke permukiman warga pada Senin (14/12). Ditambah, intensitas hujan masih tinggi. Hingga akhirnya tercatat terdapat 95 ruang yang terdampak.

Kerusakan rumah, lebih banyak pada lantai, dinding dan posisi rumah yang miring, karena penurunan tanah itu. Senin (14/12) pagi, warga langsung kerja bakti, membetulkan ruang semi permanen yang miring.

Petugas ESDM Kantor Cabang Serayu Utara, langsung memasang EWS sederhana di empat titik rawan tanah bergerak. Tanah masih bergerak akibat hujan hingga Senin (14/12) sore.


Sumber : detik.com

 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel