Viral Rumah Tua di Tengah Kebun Jati Gunungkidul

Rumah tua di tengah kebun jati di Kabupaten Gunungkidul yang sempat
viral dan jadi perbincangan di medsos. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Gunungkidul - Sebuah rumah tua di Padukuhan Pati, Kalurahan Genjahan, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, sempat viral dan menjadi perbincangan di media sosial (medsos). Rumah dengan arsitektur lawas yang berada di tengah kebun jati itu tampak terbengkalai.

detikcom menengok rumah tua tersebut. Berjarak sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Wonosari, rumah tua itu berada di pinggir jalan kampung yang sudah beraspal. Namun, untuk mendekati rumah itu, perlu berjalan beberapa meter melalui perkebunan jati.

Dari pantauan, rumah itu memiliki fasad yang unik dan kental dengan nuansa zaman kemerdekaan. Bercat krem, rumah tersebut memiliki banyak jendela dengan model lawasan.

Selain itu, tampak dinding luar rumah yang terbuat dari kayu, namun kondisinya ada yang jebol. Rumah tersebut berada di tengah lahan yang ditanami pohon jati.

Wanita yang pernah tinggal di rumah tersebut, Martanty Soenar Dewi, menjelaskan bahwa dia tidak tahu pasti kapan rumah itu berdiri. Namun, dia memperkirakan rumah itu telah ada sejak sebelum Indonesia merdeka.

"Itu rumah eyang saya, eyang saya dulu Kepala Daerah (Bupati) ke-18 Gunungkidul namanya Prawiro Suwignyo," kata Martanty saat dihubungi detikcom, Rabu (23/9/2020).

Dia menjelaskan, rumah itu hanya rumah bagian depan dan sebetulnya ada bangunan utama di bagian belakang tapi saat ini sudah roboh. Menurutnya, rumah itu adalah rumah paling bagus saat eyangnya menjabat kepala daerah.

"Dulu sebetulnya di belakangnya itu ada bangunan lagi besar, itu (rumah saat ini) hanya bangunan depan saja sebetulnya, seperti itu. Tapi ada terasnya dulu, asri gitu banyak tanaman, pohon. Saat ini sudah habis semua," ujarnya.

"Kalau sejak kapan berdirinya rumah itu saya kurang tahu, kemungkinan antara tahun 1920-1925," lanjut Martanty.
Rumah tua di Padukuhan Pati, Kalurahan Genjahan, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul yang sempat menjadi perbincangan di medsos. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Martanty mengaku dia sempat tinggal di rumah tersebut selama beberapa tahun. Hal itu karena weton atau penanggalan Jawa hari lahirnya sama dengan ibunya.

"Saya dari bayi sampai SMP ikut eyang karena kalau orang Jawa itu kalau weton sama ibunya harus dipisah, kebetulan weton saya sama dengan ibu lalu dipisah," katanya.

"Sebetulnya dipisah itu hanya simbol, istilahnya ditemu orang dan nanti ditebus sama orang tua. Tapi karena yang ambil eyang saya sendiri jadi tidak boleh diambil karena sudah terlanjur senang dapat momongan," imbuhnya.

Selesai menempuh studi SMP pada tahun 1974, Martanty pindah ke Malang, Jawa Timur. Di mana saat itu eyangnya juga ikut berpindah tempat tinggal ke Malang.

"Lalu pindah ke Malang dan eyang putri ikut, saat itu eyang putri masih wara-wiri (bolak-balik Gunungkidul) dan akhirnya tinggal di Malang. Terus ada yang jaga tapi akhirnya yang jaga ikut keluarganya dan mulai kosong 10 tahun yang lalu," ujarnya.

Selanjutnya, fasilitas yang ada di rumah saat masih ditinggali dahulu...

Martanty menambahkan, bangunan rumah milik Bupati Gunungkidul periode 1958-1959 Prawiro Suwignyo itu berdiri di lahan peninggalan Bupati pertama Gunungkidul, Mas Tumenggung Pontjodirjo. Luas lahan sekitar 5.000 meter persegi. Prawiro Suwignyo merupakan eyang Martanty dan Prawiro masih keturunan dari Mas Tumenggung Pontjodirjo.

Menyoal bangunan, Martanty menyebut bagian belakang rumah sudah ambruk karena termakan usia dan oleh saudaranya dimanfaatkan.

"Terus belakangnya itu ada rumah besar lagi, tapi saat ini sudah ambruk, mungkin (materialnya) diambilin saudara. Jadi hanya rumah depan itu saja yang dipertahankan," ujarnya.

Selain itu, rumah tersebut dahulunya menjadi pusat kegiatan masyarakat sekitar. Rumah itu memiliki halaman yang luas dan bangunannya tergolong mewah saat itu.

"Zaman dulu itu menjadi rumah yang paling bagus di lingkungannya, karena dulu ada fasilitas seperti badminton di depan, fasilitas untuk orang sekitar dan di teras digunakan untuk main musik keroncong bapak-bapak anak muda, itu kalau saat ada eyang," katanya.

Dahulu rumah tersebut memiliki pagar batas dari pohon jati. Namun saat itu pohon jati berukuran besar yang dia maksud sudah hilang.

"Dulu jati untuk pagar-pagar pembatas, dulu itu gede-gede sekarang hilang semua, mungkin diambil saudara-saudara. Dulu pembatas kebon kayu jati untuk pagar pembatas," ujarnya.

Dia menambahkan, rencananya rumah tersebut akan dipugar. Hal itu untuk mempertahankan bentuk rumah aslinya.

"Kami sudah berembuk rumah itu dipugar untuk transit kalau keluarga ke Ponjong, tapi belum kesampaian. Nantinya kalau dipugar jelas akan mempertahankan bentuk aslinya," ucapnya.

Selanjutnya, seperti apa sejarah pemilik rumah tersebut, Prawiro Suwignyo?...

Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, CB Supriyanto, mengatakan bahwa Prawiro Suwignyo saat itu adalah Kepala Daerah Gunungkidul. Dia hanya menjabat sebagai kepala daerah periode 1958-1959.

Singkatnya masa pemerintahan Suwignyo, kata Supriyanto, karena dulu bupati dipilih berdasarkan maklumat. Terlebih dahulu belum ada regulasi yang mengatur tentang lamanya masa jabatan.

"Jadi kalau dulu itu ada aturan, yang saya tahu dulu itu berdasarkan maklumat itu ada kepala daerah dan ada bupati. Sehingga masa pengabdiannya tidak lama, tidak ada setahun kalau menurut catatan," kata Supriyanto kepada detikcom, Jumat (25/9/2020).

"Karena setelah itu kembali kepada keberadaan undang-undang yang menetapkan setiap daerah itu hanya ada satu bupati," sambungnya.

Menurutnya, dengan adanya jabatan bupati dan kepala daerah saat itu, menjadi bias tersendiri.

"Kalau dulu memang ada bupati dan kepala daerah, sehingga bias waktu itu karena memang kondisi saat itu mengalami krisis ekonomi dan lain-lain," ucapnya.

Terkait pendidikan dan tempat kelahiran Prawiro Suwignyo, Supriyanto menduga jika yang bersangkutan lahir di Ponjong dan wafat di Ponjong. Hal itu merujuk peninggalan Prawiro Suwignyo semasa hidup.

"Kalau melihat itu betul lho, (betul) itu rumah beliau (Prawiro Suwignyo) berarti asli Ponjong," katanya.

Dia mengaku data terkait Prawiro Suwignyo sangat minim. Mengingat banyak makam Bupati Gunungkidul yang hingga kini belum diketemukan.

"Kan ada 10 bupati yang tidak ketemu makamnya, kalau tahunnya itu mestinya ketemu, ya logikanya (Prawiro Suwignyo wafat) itu di Ponjong, tapi karena tidak pernah dicari," katanya.

Menurutnya, 10 nama bupati yang makamnya tidak ketemu itu di antaranya Mas Tumenggung Prawirosetiko, Wiraningrat, Pringgodiningrat, Suryo Kusumo, Cokro Kusumo, Danuningrat, Wiryaningrat dan Yudhodiningrat.

"Apalagi waktu mencari tahun 1985 dan setelah itu tidak diteruskan pejabat berikutnya. Jadi tidak dicari mungkin karena itu tugasnya pemerintah. Karena dulu bupati bukan pilihan tapi hanya penunjukan," lanjutnya.

Menyoal sejarah rumah tua yang viral tersebut, Supriyanto juga tidak mengetahuinya secara detail. Hal itu karena minimnya data terkait Prawiro Suwignyo.

"Kemudian kalau masalah bangunan kami belum tahu secara pasti karena kami belum pernah menggali beberapa rumah-rumah bupati," ucapnya.

"Karena sampai sekarang itu kita belum bisa menemukan dari sejumlah bupati itu masih ada yang belum kita temukan makamnya karena memang belum ada yang mencoba menggali," lanjut Supriyanto.

Sementara itu, Dinas Kebudayaan Gunungkidul berencana menjadikan rumah milik Bupati ke-18 Gunungkidul Prawiro Suwignyo itu sebagai cagar budaya.

Kabid Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Gunungkidul Agus Mantara mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan sosialisasi di Kapanewon Ponjong, Rabu (23/9). Sosialisasi itu terkait dengan potensi warisan budaya yang bisa diproyeksikan menjadi cagar budaya.

"Ketika data sudah masuk ke kami, nanti akan ditugaskan tim ahli cagar budaya, kebetulan saya masuk di dalamnya akan melakukan survei kemudian kajian," kata Agus kepada detikcom, Kamis (24/9/2020).

"Lha nanti kalau di dalam kajian itu memang memenuhi syarat sesuai dengan UU No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya pasti akan kita masukkan ke cagar budaya," sambung Agus.

Kemudian setelah nanti masuk cagar budaya, secara bertahap akan berproses untuk pemanfaatannya. Semua itu sesuai dengan Perda DIY No 6 tahun 2012 tentang warisan budaya dan cagar budaya serta Pergub No 62 tahun 2013 tentang pelestarian cagar budaya.

"Tentunya nanti bisa kita intervensi untuk studi kelayakan, studi teknis dan mungkin nanti pada pembangunan fisiknya. Yang penting nanti yang bersangkutan tidak keberatan untuk kami jadikan sebagai cagar budaya," ucapnya.

"Kami akan survei dan kami lihat siapa pemiliknya. Kemudian pemiliknya akan ditanya boleh nggak nanti kita kaji untuk kita jadikan cagar budaya," ujarnya.


Sumber : detik.com

 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel