Jalan Nasional di Mojokerto Berlubang dan Bergelombang Banyak Telan Korban

Jalan berlubang dan rusak di Mojokerto (Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom)
Mojokerto - Kondisi jalan nasional di kabupaten yang berlubang dan bergelombang banyak menelan korban selama tiga bulan. Perbaikan jalan berlubang dan bergelombang sebatas tambal sulam dinilai tidak efektif lantaran kerusakan terus saja terjadi.

Kerusakan jalan nasional Surabaya-Madiun tersebar di beberapa titik. Mulai dari wilayah Kenanten dan Balongmojo di Kecamatan Puri, Gemekan dan Brangkal di Kecamatan Sooko, hingga wilayah Watesumpak, Jatipasar dan Trowulan di Kecamatan Trowulan.

Kedalaman dan luas lubang di jalan nasional tersebut beragam. Tak sedikit yang kedalaman lubangnya lebih dari 10 cm. Ditambah lagi jalan menjadi bergelombang akibat penambalan beberapa lubang yang tidak rata. Seperti di wilayah Gemekan, Watesumpak dan Trowulan.

Kerusakan jalan nasional tentu saja dikeluhkan para pengendara. Seperti yang dikatakan Nanik (56), warga Desa Gemekan, Kecamatan Sooko. Menurut dia, lubang-lubang di jalan kerap mengakibatkan kecelakaan para pengendara sepeda motor.

"Penyebab kecekalaan gara-gara kena jalan lubang. Kurang lebih satu minggu sekali, biasanya Senin pagi, korbannya tidak sampai meninggal," kata Nanik kepada detikcom di lokasi, Jumat (29/1/2021).

Hal senada dikatakan Bustomi (42), pemilik warung kopi di jalan nasional wilayah Desa Balongmojo, Kecamatan Puri. Dia menilai jalan berlubang membahayakan para pengendara sepeda motor.

"Kecelakaan karena menghindari jalan berlubang," terangnya.

Ia menjelaskan, rusaknya jalan nasional di wilayah Balongmojo sudah terjadi bertahun-tahun. Namun, perbaikan yang dilakukan pemerintah selama ini hanya tambal sulam. Padahal, jalur Surabaya-Madiun dilalui kendaraan dengan tonase tinggi.

"Rusak sudah bertahun-tahun, tapi hanya ditambal. Setelah ditambal, sebelahnya rusak dan seterusnya," ujar Bustomi.

Oleh sebab itu, Bustomi berharap pemerintah lebih serius memperbaiki jalan nasional ini. "Harapannya segera diperbaiki, tidak hanya ditambal, itu bukan solusi. Fondasinya harus dibongkar, diperbaiki, biar menambal tidak sia-sia," cetusnya.

Satlantas Polres Mojokerto merilis, terjadi 32 kecelakaan di jalan nasional Surabaya-Madiun dalam tiga bulan terakhir. Terdiri dari 15 kecelakaan di wilayah Trowulan, 11 kecelakaan di wilayah Sooko, 4 kecelakaan di Mojoanyar, serta 2 kecelakaan di wilayah Puri. Puluhan kecelakaan tersebut merenggut 7 korban jiwa dan 29 korban luka ringan.

"Kecelakaan tidak hanya disebabkan jalan berlubang, tapi juga etika masyarakat dalam berkendara," jelas Kasat Lantas Polres Mojokerto AKP Randy Asdar.

Kondisi jalan nasional yang rusak membuat prihatin polisi bersabuk putih tersebut. Randy bersama beberapa anggotanya menandai lubang-lubang pada jalan menggunakan cat semprot warna putih.

"Kami tandai dengan cat putih supaya pengendara bisa melihat dan berhati-hati sehingga terhindar dari kecelakaan lalu lintas. Karena jalan berlubang sangat berbahaya, terutama saat hujan atau malam hari. Pengendara yang terburu-buru bisa oleng hingga terjatuh, bahkan terlindas kendaraan lainnya," terangnya.

Randy mengaku telah berkoordinasi dengan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) terkait rusaknya jalur Surabaya-Madiun di wilayahnya. Penambalan pun hari ini dilakukan.

"Saat ini berlangsung penambalan jalan di beberapa titik, seperti Trowulan dan Sooko. Penanganan sementara penambalan, minimal bisa mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas," tandasnya.



Sumber : detik.com

 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel