Bentrok Antar Perguruan Silat Pecah di Mojokerto, Dua Orang Terluka

Petugas mendatangi lokasi pasca terjadinya bentrokan dua perguruan silat di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Foto/SINDOnews/Tritus Julan
MOJOKERTO - Bentrok antar perguruan silat kembali terjadi di wilayah Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto , Jatim. Dua orang terluka akibat insiden tersebut, sementara 15 orang diamankan.

Informasi yang dihimpun, bentrokan tersebut melibatkan puluhan oknum dua perguruan silat, yakni anggota Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti serta anggota Persaudaraan Setia Hati (PSHT). Belum diketahui penyebab bentrokan tersebut, namun saat ini kasus tersebut sudah ditangani pihak kepolisian.

Kanit Reskrim Polsek Dawarblandong Aiptu Agus Sadikin mengungkapkan, berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, insiden bentrokan tersebut bermula dari seorang anggota PSHT terlibat permasalahan dengan anggota IKSPI Kera Sakti di Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik. Ketika itu, oknum tersebut bermaksud balas dendam.

"Ia kemudian pun mencari anggota perguruan silat lainnya itu hingga ke wilayah Kabupaten Mojokerto. Dia mau balas dendam di Balongpanggang tapi tidak ketemu, akhirnya pokoknya bertemu anak arek IKSP, dia mau balas dendam," kata Sadikin, Senin (17/5/2021).

Saat sampai wilayah di jalan Dusun Beru, Kecamatan Dawarblandong, salah seorang anggota PSHT itu melihat dua orang pemuda yang tengah melintas. Dua remaja tersebut berisinal HN (20) dan AD (20) yang belakangan diketahui anggota IKSPI Kera Sakti. Seketika itu, oknum-oknum anggota PSHT itu kemudian menganiaya dua pemuda tersebut.

Akibat penganiayaan tersebut, dua pemuda asal Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto itu babak belur. Keduanya harus menjalani perawatan di puskesmas karena mengalami sejumlah luka pukulan di kepala dan punggung akibat dihajar sejumlah anggota PSHT.

"Korban mengalami luka memar dan sudah mendapatkan perawatan medis. Saat ini kondisinya sudah mulai membaik," imbuhnya.

Aksi pengeroyokan itupun kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian. Petugas Polsek Dawarblandong dibantu anggota Polresta Mojokerto langsung turun ke lapangan untuk mencari para pelaku pengeroyokan. Hasilnya sebanyak 15 orang pendekar dari PSHT diamankan petugas untuk dimintai keterangan.

"Dari jumlah itu, yang delapan statusnya penggembira tidak tahu permasalahannya diamankan di Polsek. Kalau yang tujuh, dengan dua diantaranya perempuan sudah dibawa ke Polresta untuk pemeriksaan lebih lanjut," terang Sadikin.

Insiden pengeroyokan itu nyaris membuat kedua perguruan silat ini bentrok. Lantaran tersiar kabar jika ada anggota PSHT yang menjadi korban pengeroyokan. Tak pelak, puluhan pendekar PSHT dari wilayah Gresik dan Mojokerto nyaris menggeruduk Desa Temuireng, Kecamatan Dawarblandong.

"Padahal kejadian itu tidak ada. Anak (PSHT) sini tidak ada masalah sekali dengan anak IKSP. Tapi karena terbawa hasutan dari oknum anak Benjeng tadi beritanya menyebar mau menyerang anak tadi," ungkap Sadikin.

Beruntung berita hoaks itu mampu dengan cepat diredam. Hingga akhirnya kedua anggota perguruan silat itu mengurungkan niat mereka. Sejauh ini, polisi masih belum menetapkan tersangka dalam kasus pengeroyokan ini. Selain mengamankan 15 orang, petugas juga menyita empat unit sepeda motor, sebuah samurai, serta kayu balok.

"Ini masih didalami dan belum diketahui tersangkanya. Untuk selanjutnya penanganan perkara dilimpahkan ke Mapolresta Mojokerto," tandas Sadikin.

Sumber : SINDONEWS.COM
 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel